Candi Jabung Kejayaan dan Warisan Majapahit di Probolinggo
Suka
Komentar

Candi Jabung Kejayaan dan Warisan Majapahit di Probolinggo

Candi Jabung adalah salah satu peninggalan arkeologis yang mencerminkan kebesaran Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, candi ini dibangun sekitar abad ke-14 Masehi dan termasuk dalam era kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dalam catatan kitab "Nagarakretagama," karya Mpu Prapanca, disebutkan bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling Jawa dan singgah di sejumlah tempat, termasuk di wilayah yang kini dikenal sebagai Candi Jabung. Kehadiran candi ini menandakan pentingnya kawasan tersebut dalam konteks budaya dan spiritual Majapahit. Selain sebagai tempat pemujaan, Candi Jabung dipercaya berfungsi sebagai candi perabuan bagi tokoh kerajaan yang telah meninggal dunia, seperti yang umum ditemukan dalam tradisi Hindu-Buddha pada masa itu.

Secara arsitektural, Candi Jabung memiliki keunikan tersendiri karena dibangun menggunakan bata merah sebagai bahan utama, berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur lainnya yang umumnya dibangun dengan batu andesit. Bata merah ini tidak hanya menunjukkan karakteristik khas Majapahit, tetapi juga menggambarkan keterampilan tinggi para pekerja bangunan dalam memanfaatkan material lokal. Meski terbuat dari bata, Candi Jabung masih berdiri kokoh hingga saat ini, memperlihatkan keunggulan teknologi konstruksi pada masa itu. Struktur bangunan candi ini memiliki tinggi sekitar 16,2 meter dengan bentuk silindris pada tubuh candi dan stupa di bagian atasnya. Bentuk tubuh silindris ini cukup jarang ditemukan pada candi-candi di Indonesia, sehingga menambah keunikan dan daya tarik arkeologis dari Candi Jabung.

Relief yang terpahat di permukaan Candi Jabung memperlihatkan cerita-cerita mitologis dan simbol-simbol keagamaan, mencerminkan perpaduan ajaran Hindu dan Buddha yang hidup berdampingan di bawah naungan Majapahit. Motif-motif seperti makara (ornamen penjaga pintu), bunga teratai, serta pahatan figur manusia dan hewan mistis menunjukkan kompleksitas budaya masyarakat pada masa itu. Di bagian kaki candi, terdapat relief naratif yang menggambarkan kisah kehidupan sehari-hari dan mitos tertentu. Para arkeolog berpendapat bahwa candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan moral dan ajaran spiritual kepada masyarakat.

Sejarawan dan arkeolog meyakini bahwa fungsi utama Candi Jabung adalah sebagai candi perabuan. Dalam tradisi Hindu-Buddha, tokoh-tokoh penting yang meninggal dunia seringkali diabadikan dalam bentuk arca atau bangunan suci. Kemungkinan besar, Candi Jabung dibangun untuk menghormati seorang tokoh perempuan dari kalangan bangsawan atau kerajaan yang dianggap suci. Hal ini sejalan dengan tradisi di Majapahit di mana raja dan anggota keluarganya sering diabadikan dalam bentuk candi perabuan setelah wafat. Candi ini bukan sekadar tempat penghormatan, tetapi juga dianggap sebagai simbol pelepasan jiwa menuju moksa, yaitu kebebasan dari siklus kelahiran kembali dalam ajaran Hindu dan Buddha.

Selain fungsi spiritual, Candi Jabung juga memiliki peran sosial dan politik yang penting dalam memperkuat legitimasi kekuasaan Raja Majapahit. Pembangunan candi megah seperti Jabung memperlihatkan bahwa kerajaan memiliki sumber daya dan kekuatan besar untuk membangun infrastruktur yang monumental. Kehadiran candi-candi ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial, di mana masyarakat berkumpul untuk melakukan upacara ritual atau memperingati peristiwa penting. Dalam konteks politik, pembangunan candi semacam ini memperlihatkan bahwa raja tidak hanya berkuasa secara duniawi tetapi juga memiliki legitimasi spiritual sebagai penghubung antara rakyat dan para dewa.

Setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15, banyak situs budaya, termasuk Candi Jabung, mulai terlupakan dan ditinggalkan. Perubahan politik dan penyebaran agama Islam secara bertahap mengubah tatanan sosial dan spiritual masyarakat Jawa. Candi-candi Hindu-Buddha yang sebelumnya menjadi pusat kehidupan spiritual mulai ditinggalkan dan dibiarkan terbengkalai. Meskipun demikian, Candi Jabung masih berhasil bertahan hingga era kolonial Belanda. Pada abad ke-19, para arkeolog Belanda mulai menemukan dan mendokumentasikan situs ini, menandai awal dari usaha pelestarian candi-candi kuno di Nusantara.

Tulis Komentar

0 Komentar